Restonya bisa terbilang ramai tapi nggak sampai pake waiting list segala kok. Bangunannya terbilang unik seperti rumah tempo dulu, interiornya juga dibikin tempo dulu masuk ke dalam resto itu jadi teringat atmosphere Huize Trivelli yang ada di tanah abang (cuman yang ini relatif lebih luas). Niy bisa diliat gambar disamping..hehe doi numpang nampang dikiiiit yak..
calamari with tartar sauce
Fried calamari nya lumayan empuk, nggak pakai susah ngegigitnya. Ada cocolan saus tartarnya yaitu saus putih kental yang terbuat dari mayonaise yang sudah dicampur peterseli dan bawang (bawang bombay gitu bukan siy?!?) sajian dibeberapa resto lain yang pernah dicoba ada kalanya saus tartar dicampur dengan telur rebus yang sudah dihancurkan.
Sayangnya saus tartar sajian Bon Ami ini agak hambar dibandingkan saus tartar di resto lain (kurang asin atau kurang bawang ya...yang jelas berasa hambar aja...)

cream mushroom soup
Ini niy cream mushroom soup yang rasanya paaaaaaaas banget..nggak perlu lagi dikasi tambahan apa-apa sudah terasa endang gulindang bambang sluuurp...
Untuk minumnya kami memilih markisa squash dan tropical fruit punch yang segar sebagai pengimbang steak. Hoiya...kalau kita pesan steak kita akan diberikan roti dan butter (for free tentunyah).

Dalam waktu yang tidak terlalu lama keluarlah rib eye steak yang disajikan bersama salad, kentang dan sayuran potong diatas hot plate sedangkan T Bone Steak ditemani french fries dan sayuran yang disajikan secara terpisah. Dressing sauce keduanya tidak berbeda rasanya (BBQ sauce siy kayaknya...).
Rib Eye yang merupakan daging iga sapi tentu saja potongannya lebih tebal dan serat dagingnya lebih terasa dibandingkan T Bone. T Bone disajikan dalam potongan lebih tipis tapi cukup lebar kok (jadi dijamin nggak kurang). Gigitan steak yang mantabs empuk dan cukup juicy serta sauce-nya yang nge-blend dengan dagingnya menjadikan steak terbitan Bon Ami ini layak untuk dicoba..
Bon Appetit...
Sushi Tei merupakan restaurant pertama yang saya coba untuk merasakan makanan yang mostly terbuat dari bahan ikan mentah ini. Belum lama siy rasanya.. (lupita bow..) yang jelas baru ketika tinggal di Jakarta (4 tahunan).
Ketika memasuki restaurant ini akan disambut dengan teriakan khas ala Jepang "Irasshaimase" yang kalau nggak salah artinya selamat datang dan "arigatou gozaimasu" yang artinya terima kasih.. Yang khas di restaurant ini, sushi bar yang mengelilingi conveyer belt atau food rail dan "dapur" kaca tempat koki membuat sushi. Kita bisa melihat koki-koki melakukan flambee (itu tuh yang masak apinya pake nyamber-nyamber gede banget.. spelling-nya salah ga ya?!?), seru...
Diatas conveyer belt atau food rail tertata rapi piring berbagai warna dengan tutup plastik transparan yang menyajikan berbagai macam jenis sushi. Perbedaan warna piring-piring tersebut membedakan harga jenis sushi (yang termahal piring bercorak dan berwarna tua misalnya gold, hitam atau merah dan yang lebih murah piring berwarna muda seperti pink, biru atau putih). Untuk menikmatinya kita bisa langsung mengambil piring-piring sushi berjalan tersebut dan langsung menyantapnya.
Sebagai teman makan sushi, disediakan dua jenis kecap yaitu soy sauce dan satu lagi berasa sedikit manis, yang ini nggak tau namanya hehe.., ada juga bubuk cabe dan wasabi di atas meja untuk mencocol sushi sebelum disantap. Juga ada pickled ginger yang disajikan sebagai pencuci mulut. Jahe ini bisa dimakan diantara jenis sushi yang berbeda. Untuk minumannya terdapat banyak pilihan tapi yang paling sering dipilih ya teh jepang atau ocha tea (teh hijau khas Jepang). Ocha tea di restaurant ini disajikan dingin atau panas dan kita pun dapat meminta untuk selalu diisi ulang (bottomless/refill).
Beberapa menu yang hampir selalu diambil setiap ke Sushi Tei (hampir selalu ding..hehe menu pilihanku agaknya nggak berkembang ya..) antara lain :
salmon mentai sushi
jo unagi sushi
Unagi atau eel atau belut disajikan bersama nasi ketan dan nori, memiliki rasa sedikit manis. Sepiring berisi dua potong jo unagi sushi.

Chuka Iidako
Baby octopus..dari namanya bisa ditebak ya memang gurita kecil. Disajikan diatas parutan lobak, juicy banget dan nggak terasa amis.
Beberapa menu lain ada Chawan Musi, Stamina Roll, Salmon Skin Roll Fried dan berbagai macam sushi, sashimi, menu berkuah semacam udon atau ramen, menu dalam pan bagi yang tidak begitu suka dengan daging ikan bisa jadi pilihan. Harga yang dipatok tidak terlalu mahal, cukup sebanding dengan kualitas dan rasa makanan yang ditawarkan.
Untuk dessert-nya terdapat berbagai macam pilihan mulai dari chocolate wafer, ice ball atau jenis ice cream khas Jepang lainnya. Semua enyak enyak enyak... dan dengan harga terjangkau pastinyah...
Kalau berniat makan di restaurant ini pada jam makan siang atau makan malam bisa jadi ngantri dan harus masuk waiting list yang tidak pendek, jadi kalau memang berniat makan rame-rame bareng teman atau kolega ada baiknya reservasi sebelumnya.
Pernah juga coba Sushi Tei di Surabaya-Galaxy Mall dan Plaza Tunjungan...interiornya tidak jauh berbeda dengan restaurant Sushi Tei yang ada di Jakarta hanya saja pengunjungnya lebih sepi. Menu yang disajikan pada conveyer belt tidak banyak jenisnya jadi harus memesan dengan contekan buku menu. Untuk menu dessert ada beberapa jenis yang belum tersedia (sayangnya lupa ketika itu mesen apa dan diberitahu oleh mbak-mbak pelayannya belum tersedia).
Tertarik untuk mencoba Sushi Tei? Di jakarta resto ini bisa dijumpai di beberapa mall, antara lain Plaza Indonesia, Senayan City, Plaza Senayan, PIM dan Kelapa Gading. Sedangkan di Surabaya ada di Plaza Tunjungan dan Galaxy Mall.
*terima kasih buat pak ST10 yang memandu beberapa ejaan beberapa kata dalam bahasa Jepang hihihi...
Seringkali tidak mudah mengungkapkan rasa cinta meskipun tersedia banyak cara untuk mengatakannya. Terkadang sulit terucap namun tidak jarang secara tak disadari terungkap dengan sendirinya.
Seperti seorang ibu yang takkan diragukan kadar cintanya kepada anaknya meski tak diucap. Tatapan matanya mengisyaratkan, senyum dibibirnya memberi sinyal, belaian lembutnya menjadikannya terasa tanpa dipertanyakan. Uluran tangan untuk sebatang coklat atau sebutir permen kepada anak kecil asing juga cinta bukan?.
Ketulusan dan pengorbanan itu juga cinta. Tanpa ada ukuran seberapa tulus atau seberapa berkorbannya kita. Tanpa kata I Love You cinta tetaplah cinta. Gampang-gampang sulit..atau sulit-sulit gampang?
Ketika ungkapan cinta menjadi terbatasi oleh prasangka, praduga dan stigma. Ketulusan menjadi dipertanyakan, pengorbanan berubah menjadi perhitungan untung dan rugi yang tak berujung.
Seringkan kita lihat seorang anak kecil peminta di sudut-sudut Jakarta, disaat seharusnya sudah lelap tidur dibawah kehangatan selimut. Seringkali terbayang selembar ribuan yang mereka dapat berarti terbebas dari hukuman guru esok hari karena tidak sempat mengerjakan PR, berarti tidak tertidur dikelas karena bisa pulang lebih cepat, berarti segera terbebas dari dinginnya malam yang menggigit karena setoran kepada makelar cepat tertuntaskan, berarti sarapan sedikit layak untuk esok pagi atau berarti apapun yang bagi kita mungkin tak duga.
Uluran selembar ribuan bagi beberapa kita memang tidak begitu berarti, sayangnya banyak orang berpraduga atau berprasangka membuatnya kembali tersimpan di kantong atau dompet atau bahkan terselip. "Kalo dikasih bikin doi males lah...ngajarin minta-minta lah...tar dipake ngelem lah..".
Maaf kawan kita tak sejalan..
Ungkapkan cinta kita walau tanpa kata. Mudah, tidak sulit.
Ungkapan sederhana dari seorang biasa yang tak mampu mengungkap dengan kata, tanpa praduga..tanpa prasangka..hanya cinta..
Semoga tidak salah..


